Kesabarannya
melahirkan satu keberanian untuk menyatakan ketauhidtannya di muka para
bangsawan kafir Quraisy, kesabarannya bak minyak kasturi yang terpelihara dalam
genggaman hatinya, wanginya pun menyadarkan orang yang membaca kisahnya, kisah
kepahlawanan yang mengharumkan namanya, memuliakan jiwanya, menyucikan ruhnya,
kokoh berdiri, tegak menghadapi setiap siksaan yang tanpa ampun menyelimuti
tubuhnya yang hitam kelam, tapi hati, tapi jiwa, dan lidahnya masih terus
meyebut ke-Esa-an-Nya, sekali lagi dia bernama Bilal bin Rabah, seorang pria
habsyi berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat, dan
bercambang tipis begitulah para ahli riwayat melukiskan sosok pribadinya yang
besar yang penuh dengan cinta dan cita.
Sekali
lagi sahabatku dia bernama Bilal bin Rabah, sosok yang menjadi salah satu
keajaiban iman dan kebenaran islam. Dalam lintasan waktu, dalam lintasan
generasi, terdapat jutaan yang mengenal sosok Bilal, dan kaupun wahai sahabatku
tentu mengenal riwayatnya, kisahnya, dan kepahlawanannya dan tahu kah kau wahai
sahabatku bukan hanya dirimu dan diriku tapi seluruh kaum muslimin dimanapun ia
tinggal di belahan bumi ini mengetahui pribadinya yang penuh keteduhan.
Sekali
lagi sahabatku dia bernama bilal bin rabah, ia muadzin pertama yang
mengumandangkan Adzan, panggilan cinta untuk bertemu dengan Sang Maha Cinta.
“Bilal bin Rabah…….. ?” sekali lagi ia seorang habsyi dari golongan orang
berkulit hitam. Takqdir telah membawa nasibnya menjadi budak dari bani jumah di
kota Mekah, karena ibunya pun seorang hamba sahaya mereka. kehidupannya pun tak
berbeda dengan budak – budak lainnya, akan tetapi kehitaman warna kulitnya,
kerendahan kasta dan bangsa, serta kehinaan dirinya di antara manusia selama
itu sebagai budak belian, sekali – kali tidaklah menutup pintu baginya untuk
menempati kedudukan tinggi yang dirintis oleh kebenaran, keyakinan, kesucian,
dan kesungguhannya setelah ia memasuki agama islam.
“….Ahad …!
….Ahad….! “
Waktu
pagi hampir berlalu, waktu dhuhur dekat menjelang, dan Bilal pun di bawa
kepadang pasir, tetapi ia pun tetap sabar dan tabah, tenang tak tergoyah, lalu
waktu pun merubah padang pasir menjadi neraka, dengan keadaan telanjang bulat
ia di baringkan di atas kerikil - kerikil padang pasir yang panas membara, lalu
beberapa orang laki – laki mengangkat batu besar dan menjatuhkannya di atas
tubuh dan dadanya, batu yang menindih tubuhnya bak sebongkah batu bara yang
kian memanas menindih tubuhnya yang kurus kerempeng. siksaan yang begitu kejam
dan biadab ini mereka lakukan setiap hari, begitu dasyatnya sisksaan yang di
perbuat oleh para algojo-algojo itu, hingga membuat mereka menaruh rasa kasihan
kepada Bilal bin Rabah, mereka berjanji dan bersedia melepaskannya asal saja
bilal mau menyebut “Tuhanku Lata dan
Uzza” nama tuhan nenek moyang kaum kafir Quraisy secara baik – baik walau
dengan sepatah kata sekalipun, akan tetapi walau sepatah kata sekalipun yang
dapat di ucapkan bukan dari lubuk hatinya, dan yang dapat menebus nyawa dan
hidupnya tanpa kehilangan iman dan melepas keyakinannya, Bilal tak sedikit pun
hendak untuk mengatakannya, ia menolak mengucapkan hal itu dan sebagai gantinya
ia senandungkan yang abadi
“….Ahad….!....Ahad….! Allah Yang Maha Tunggal…!.... Allah Yang Maha Tunggal…..!”
Tinggalah
Bilal dalam deraan panas dan tindihan batu hingga ketika sang fajar beranjak ke
peraduannya, menyingkap warna jingganya, dan ketika hari berakhir di waktu
petang mereka tegakkan badannya dan ikatkan tali pada lehernya, lalu merreka
meyuruh anak – anak untuk mengaraknnya mengelilingi sudut – sudut kota Mekah,
sementara Bilal tiada juga berhenti kedua bibirnya melagukan senandung sucinya
“…Ahad….Ahad…”
Begitu
gigihnya Bilal bin Rabah mempertahankan keyakinannya dalam menghadapi siksaan
yang bertubi – tubi, akan tetapi tak sedikitpun menggoyahkan keyakinannya, ia
tetap sabar menghadapi cobaan ini, malah melahirkan satu keberanian tuk selalu
senandungkan kata “..Ahad…Ahad..”
di
hadapan para bangsawan kafir Quraisy bahkan di hadapan majikannya Umayah,
hingga membuat gusar dan amarah murkanya dan Umayah pun meninjunya sambil
berseru “ Kesialan apa yang menimpa kami
disebabkanmu, hai budak celaka ?! Demi Lata dan Uzza akan ku jadikan kau
sebagai contoh bagi bangsa budak dan majikan-majikan mereka !” dengan keyakinan seorang mukmin dan kesabaran
yang suci, Bilal hanya menyahut “
….Ahad….!...Ahad….!” dan
saat siksaan terus menerus dilakukan kepada Bilal tiba – tiba datanglah Abu
Bakar Shiddiq, serunya ; “Apakah
kalian akan membunuh seorang laki – laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah
Allah ?!” kemudian katanya kepada Umayah bin Khalaf ; “Terimalah ini untuk tebusannya, labih tinggi dari harganya,
dan bebaskanlah ia…..!” demikianlah Umayah saat itu ; hatinya
lega dan merasa amat beruntung karena Abu Bakar hendak menebus budaknya. ia
telah berputus asa akan dapat menundukkan Bilal, dengan di jualnya Bilal akan
memperoleh keuntungan dari pada membunuhnya dan Bilal pun mengambil tempatnya
dalam lingkungan orang – orang merdeka berjuang bersama dalam satu barisan
menegakkan agama islam. hingga memuliakan namanya.
Sekali lagi sahabatku dia bernama Bilal bin
Rabah , sosoknya merupakan satu kehormatan bagi perikemanusiaan yang menjadikan
sebagai satu pelajaran perbandingan bagi ummat manusia, bahwa hitamnya warna
kulit dan perbudakan, sekali-kali tidak menjadi penghalang untuk mencapai
kebesaran jiwa, sekali lagi sahabatku dia bernama Bilal bin Rabah memberikan
intisari hikmah kehidupan kepada orang – orang yang semasa dengannya juga
kepada generasi di segala masa; suatu pelajaran berharga yang mengajarkan
kepada kita bahwa kemerdekaan jiwa dan kebebasan nurani, tak dapat di beli
dengan emas separuh bumi, atau dengan siksaan bagaimanapun dahsyatnya, karena
ia punya cinta, punya cita, dan kesabaran {(^_^)}
Serial Sahabat Nabi
Sepenggal Cerita
Salman Al Hariyadi

0 komentar:
Posting Komentar