Salman Al Hariyadi

"ikhlas dalam menggapai ridho Allah.swt"

Rabu, 21 Agustus 2013

"Budak Hitam Itu bernama Bilal bin Rabah"

Kesabarannya melahirkan satu keberanian untuk menyatakan ketauhidtannya di muka para bangsawan kafir Quraisy, kesabarannya bak minyak kasturi yang terpelihara dalam genggaman hatinya, wanginya pun menyadarkan orang yang membaca kisahnya, kisah kepahlawanan yang mengharumkan namanya, memuliakan jiwanya, menyucikan ruhnya, kokoh berdiri, tegak menghadapi setiap siksaan yang tanpa ampun menyelimuti tubuhnya yang hitam kelam, tapi hati, tapi jiwa, dan lidahnya masih terus meyebut ke-Esa-an-Nya, sekali lagi dia bernama Bilal bin Rabah, seorang pria habsyi berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat, dan bercambang tipis begitulah para ahli riwayat melukiskan sosok pribadinya yang besar yang penuh dengan cinta dan cita.

Sekali lagi sahabatku dia bernama Bilal bin Rabah, sosok yang menjadi salah satu keajaiban iman dan kebenaran islam. Dalam lintasan waktu, dalam lintasan generasi, terdapat jutaan yang mengenal sosok Bilal, dan kaupun wahai sahabatku tentu mengenal riwayatnya, kisahnya, dan kepahlawanannya dan tahu kah kau wahai sahabatku bukan hanya dirimu dan diriku tapi seluruh kaum muslimin dimanapun ia tinggal di belahan bumi ini mengetahui pribadinya yang penuh keteduhan.

Sekali lagi sahabatku dia bernama bilal bin rabah, ia muadzin pertama yang mengumandangkan Adzan, panggilan cinta untuk bertemu dengan Sang Maha Cinta. “Bilal bin Rabah…….. ?” sekali lagi ia seorang habsyi dari golongan orang berkulit hitam. Takqdir telah membawa nasibnya menjadi budak dari bani jumah di kota Mekah, karena ibunya pun seorang hamba sahaya mereka. kehidupannya pun tak berbeda dengan budak – budak lainnya, akan tetapi kehitaman warna kulitnya, kerendahan kasta dan bangsa, serta kehinaan dirinya di antara manusia selama itu sebagai budak belian, sekali – kali tidaklah menutup pintu baginya untuk menempati kedudukan tinggi yang dirintis oleh kebenaran, keyakinan, kesucian, dan kesungguhannya setelah ia memasuki agama islam.

“….Ahad …! ….Ahad….!

Waktu pagi hampir berlalu, waktu dhuhur dekat menjelang, dan Bilal pun di bawa kepadang pasir, tetapi ia pun tetap sabar dan tabah, tenang tak tergoyah, lalu waktu pun merubah padang pasir menjadi neraka, dengan keadaan telanjang bulat ia di baringkan di atas kerikil - kerikil padang pasir yang panas membara, lalu beberapa orang laki – laki mengangkat batu besar dan menjatuhkannya di atas tubuh dan dadanya, batu yang menindih tubuhnya bak sebongkah batu bara yang kian memanas menindih tubuhnya yang kurus kerempeng. siksaan yang begitu kejam dan biadab ini mereka lakukan setiap hari, begitu dasyatnya sisksaan yang di perbuat oleh para algojo-algojo itu, hingga membuat mereka menaruh rasa kasihan kepada Bilal bin Rabah, mereka berjanji dan bersedia melepaskannya asal saja bilal  mau menyebut “Tuhanku Lata dan Uzza” nama tuhan nenek moyang kaum kafir Quraisy secara baik – baik walau dengan sepatah kata sekalipun, akan tetapi walau sepatah kata sekalipun yang dapat di ucapkan bukan dari lubuk hatinya, dan yang dapat menebus nyawa dan hidupnya tanpa kehilangan iman dan melepas keyakinannya, Bilal tak sedikit pun hendak untuk mengatakannya, ia menolak mengucapkan hal itu dan sebagai gantinya ia senandungkan yang abadi

  “….Ahad….!....Ahad….! Allah Yang Maha Tunggal…!.... Allah Yang Maha Tunggal…..!”

Tinggalah Bilal dalam deraan panas dan tindihan batu hingga ketika sang fajar beranjak ke peraduannya, menyingkap warna jingganya, dan ketika hari berakhir di waktu petang mereka tegakkan badannya dan ikatkan tali pada lehernya, lalu merreka meyuruh anak – anak untuk mengaraknnya mengelilingi sudut – sudut kota Mekah, sementara Bilal tiada juga berhenti kedua bibirnya melagukan senandung sucinya

“…Ahad….Ahad…”

Begitu gigihnya Bilal bin Rabah mempertahankan keyakinannya dalam menghadapi siksaan yang bertubi – tubi, akan tetapi tak sedikitpun menggoyahkan keyakinannya, ia tetap sabar menghadapi cobaan ini, malah melahirkan satu keberanian tuk selalu senandungkan kata “..Ahad…Ahad..” di hadapan para bangsawan kafir Quraisy bahkan di hadapan majikannya Umayah, hingga membuat gusar dan amarah murkanya dan Umayah pun meninjunya sambil berseru “ Kesialan apa yang menimpa kami disebabkanmu, hai budak celaka ?! Demi Lata dan Uzza akan ku jadikan kau sebagai contoh bagi bangsa budak dan majikan-majikan mereka !”  dengan keyakinan seorang mukmin dan kesabaran yang suci, Bilal hanya menyahut “ ….Ahad….!...Ahad….!”  dan saat siksaan terus menerus dilakukan kepada Bilal tiba – tiba datanglah Abu Bakar Shiddiq, serunya ; “Apakah kalian akan membunuh seorang laki – laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah ?!” kemudian katanya kepada Umayah bin Khalaf ; “Terimalah ini untuk tebusannya, labih tinggi dari harganya, dan bebaskanlah ia…..!” demikianlah Umayah saat itu ; hatinya lega dan merasa amat beruntung karena Abu Bakar hendak menebus budaknya. ia telah berputus asa akan dapat menundukkan Bilal, dengan di jualnya Bilal akan memperoleh keuntungan dari pada membunuhnya dan Bilal pun mengambil tempatnya dalam lingkungan orang – orang merdeka berjuang bersama dalam satu barisan menegakkan agama islam. hingga memuliakan namanya.

 Sekali lagi sahabatku dia bernama Bilal bin Rabah , sosoknya merupakan satu kehormatan bagi perikemanusiaan yang menjadikan sebagai satu pelajaran perbandingan bagi ummat manusia, bahwa hitamnya warna kulit dan perbudakan, sekali-kali tidak menjadi penghalang untuk mencapai kebesaran jiwa, sekali lagi sahabatku dia bernama Bilal bin Rabah memberikan intisari hikmah kehidupan kepada orang – orang yang semasa dengannya juga kepada generasi di segala masa; suatu pelajaran berharga yang mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan jiwa dan kebebasan nurani, tak dapat di beli dengan emas separuh bumi, atau dengan siksaan bagaimanapun dahsyatnya, karena ia punya cinta, punya cita, dan kesabaran {(^_^)}

Serial Sahabat Nabi




Sepenggal Cerita

Salman Al Hariyadi

0 komentar:

Posting Komentar