Semangat
Itu Ishami (Prestasi)
Bukan
Izhami (Keturunan)
![]() |
| Salman Al Hariyadi |
Meraih
cita-cita dengan semangat membara yang menggelora. Sahabatku Orang yang
bersemangat itu membangun istana kemuliaan dengan usahanya sendiri, bukan
dengan mengandalkan jasa nasab atau keturunannya. Walaupun kita tidak
memiliki jalur keturunan nasab yang bisa diandalkan, bukanlah menjadi satu
penghalang yang menghalangi kita dalam meraih cita-cita besar dalam hidup ini. Sahabatku
Orang yang bersemangat itu tidak peduli dengan nasab keturunan mulia yang tidak
ia miliki, Akan tetapi ia merasa sedih jika ia sampai meninggal tanpa
meninggalkan kemuliaan, karya, prestasi, jasa, amal yang bermanfaat, dan
keharuman nama bagi orang lain. Sahabatku Orang yang bersemangat itu tidak mau
membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah jadi tulang belulang, orang
yang bersemangat itu tidak mau memamerkan ia dari keturunan suku atau bangsa
apa. Karena pada dasarnya dari segi penciptaan, tidak ada bedanya orang yang
dilahirkan dengan memiliki nasab yang baik atau tidak baik, karena keduanya
sama-sama diciptakan dari tanah oleh Allah Sang Maha Pencipta. Nasab tidak
punya aspek keunggulan yang mesti dibanggakan, sehingga menjadi sumber pahala
di sisi Allah.SWT, sahabatku bukankah seseorang tidak lebih mulia dari orang
lain di mata Allah.Yang Maha Mengetahui kecuali Dengan Taqwanya.
Nabi
SAW Senantiasa menganjurkan anggota keluarga dan kaum kerabat dekatnya untuk
tetap bertaqwa. Beliau memperingatkan mereka agar sekali-kali jangan
mengandalkan nasab keturunan mereka sebagai keluarga utusan Allah yang
merupakan nasab paling mulia di seluruh alam. Sekalipun masih punya hubungan
nasab keturunan dengan Rasulullah SAW, mereka tetap dituntut untuk senantiasa
bertakwa kepada Allah, dan tidak menodainya dengan suka menuruti
keinginan-keinginan hawa nafsu. Kebajikan tetap kebajikan, dan akan lebih baik
jika itu muncul dari lingkungan keluarga kenabian, seballiknya kejahatan itu
sendiri adalah kejahatan, dan lebih buruk jika hal itu sampai muncul dari
ligkungan keluarga Nabi. Rasulullah SAW pasti merasa malu terhadap orang yang
mengaku sebagai keturunan Baliau namun suka menuruti keinginan-keinginan hawa
nafsu. Bahkan beliau pasti akan menyangkalnya.
Sahabatku,
seandainya engkau orang yang beruntung punya nasab keturunan yang baik alangkah
indahnya jika selalu menigkatkan ketaqwaan kepada Allah dan setia pada
prilaku-prilaku terpuji, agar kemuliaannya bertambah sempurna. Jangan merasa
cukup hanya dengan membangga-banggakan nenek moyangnya yang telah tiada, atau kedua
orang tuanya yang menjadi seorang pejabat terkenal. Sia-sia saja keturunanmu
yang mulia tanpa mau bertaqwa kepada Tuhanmu hendaknya carilah kemuliaan yang
patut di banggakan, dan manusia yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang
paling bertaqwa.
Apalah
artinya membangga-banggakan tulang belulang yang telah hancur
Kebanggaan
adalah orang yang bangga terhadap diri sendiri
Janganlah
membanggakan warisan betapun mulianya
Kemuliaan
yang sejati itu atas usaha sendiri sementara zaman pasti berlalu
Bukan
karena kaumku aku mulia
Tetapi
karena aku mereka mulia
Dan
berkat usahaku sendiri aku bangga
Bukan
karena berkat jasa nenek-nenek moyangku
Banyak
pemimpin yang lahir karena kemuliaan nenek moyangnya
Namun
tidak lama kemudian mereka lenyap
Dan
banyak orang yang nenek moyangnya tidak berpendidikan
Namun
mereka berhasil meraih derajat yang tinggi
Mengakulah
kamu putra siapa saja
Yang
penting kamu mampu meraih derajat kemuliaan
Sehingga
kamu tidak perlu nasab keturunan yang terpuji
Sesungguhnya
Pemuda Sejati adalah yang mengatakan “inilah Aku,’’
bukan
yang mengatakan , “lihatlah, Itu Bapakku”
(Al-Mutanabbi)
Salman Al Hariyadi
