Salman Al Hariyadi

"ikhlas dalam menggapai ridho Allah.swt"

Rabu, 22 Agustus 2012

Semangat Itu Ishami (Prestasi), Bukan Izhami (Keturunan)


Semangat Itu Ishami (Prestasi)
Bukan Izhami (Keturunan)
Salman Al Hariyadi
      Meraih cita-cita dengan semangat membara yang menggelora. Sahabatku Orang yang bersemangat itu membangun istana kemuliaan dengan usahanya sendiri, bukan dengan mengandalkan jasa nasab atau keturunannya. Walaupun kita tidak memiliki jalur keturunan nasab yang bisa diandalkan, bukanlah menjadi satu penghalang yang menghalangi kita dalam meraih cita-cita besar dalam hidup ini. Sahabatku Orang yang bersemangat itu tidak peduli dengan nasab keturunan mulia yang tidak ia miliki, Akan tetapi ia merasa sedih jika ia sampai meninggal tanpa meninggalkan kemuliaan, karya, prestasi, jasa, amal yang bermanfaat, dan keharuman nama bagi orang lain. Sahabatku Orang yang bersemangat itu tidak mau membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah jadi tulang belulang, orang yang bersemangat itu tidak mau memamerkan ia dari keturunan suku atau bangsa apa. Karena pada dasarnya dari segi penciptaan, tidak ada bedanya orang yang dilahirkan dengan memiliki nasab yang baik atau tidak baik, karena keduanya sama-sama diciptakan dari tanah oleh Allah Sang Maha Pencipta. Nasab tidak punya aspek keunggulan yang mesti dibanggakan, sehingga menjadi sumber pahala di sisi Allah.SWT, sahabatku bukankah seseorang tidak lebih mulia dari orang lain di mata Allah.Yang Maha Mengetahui kecuali Dengan Taqwanya.

      Nabi SAW Senantiasa menganjurkan anggota keluarga dan kaum kerabat dekatnya untuk tetap bertaqwa. Beliau memperingatkan mereka agar sekali-kali jangan mengandalkan nasab keturunan mereka sebagai keluarga utusan Allah yang merupakan nasab paling mulia di seluruh alam. Sekalipun masih punya hubungan nasab keturunan dengan Rasulullah SAW, mereka tetap dituntut untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, dan tidak menodainya dengan suka menuruti keinginan-keinginan hawa nafsu. Kebajikan tetap kebajikan, dan akan lebih baik jika itu muncul dari lingkungan keluarga kenabian, seballiknya kejahatan itu sendiri adalah kejahatan, dan lebih buruk jika hal itu sampai muncul dari ligkungan keluarga Nabi. Rasulullah SAW pasti merasa malu terhadap orang yang mengaku sebagai keturunan Baliau namun suka menuruti keinginan-keinginan hawa nafsu. Bahkan beliau pasti akan menyangkalnya.

      Sahabatku, seandainya engkau orang yang beruntung punya nasab keturunan yang baik alangkah indahnya jika selalu menigkatkan ketaqwaan kepada Allah dan setia pada prilaku-prilaku terpuji, agar kemuliaannya bertambah sempurna. Jangan merasa cukup hanya dengan membangga-banggakan nenek moyangnya yang telah tiada, atau kedua orang tuanya yang menjadi seorang pejabat terkenal. Sia-sia saja keturunanmu yang mulia tanpa mau bertaqwa kepada Tuhanmu hendaknya carilah kemuliaan yang patut di banggakan, dan manusia yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.

Apalah artinya membangga-banggakan tulang belulang yang telah hancur
Kebanggaan adalah orang yang bangga terhadap diri sendiri
Janganlah membanggakan warisan betapun mulianya
Kemuliaan yang sejati itu atas usaha sendiri sementara zaman pasti berlalu
Bukan karena kaumku aku mulia
Tetapi karena aku mereka mulia
Dan berkat usahaku sendiri aku bangga
Bukan karena berkat jasa nenek-nenek moyangku
Banyak pemimpin yang lahir karena kemuliaan nenek moyangnya
Namun tidak lama kemudian mereka lenyap
Dan banyak orang yang nenek moyangnya tidak berpendidikan
Namun mereka berhasil meraih derajat yang tinggi
Mengakulah kamu putra siapa saja
Yang penting kamu mampu meraih derajat kemuliaan
Sehingga kamu tidak perlu nasab keturunan yang terpuji
Sesungguhnya Pemuda Sejati adalah yang mengatakan “inilah Aku,’’
bukan yang mengatakan , “lihatlah, Itu Bapakku”
(Al-Mutanabbi)



Salman Al Hariyadi