Salman Al Hariyadi

"ikhlas dalam menggapai ridho Allah.swt"

Sabtu, 31 Agustus 2013

"Sahabatku, bila dirimu seorang perokok"


Saat itu senja  kini beradu dalam peraduannya di ufuk barat, meyampaikan salam  perpisahan pada hari yang kan berganti di waktu yang terus bergulir, dalam terang dan hangat, sinarnya kini berganti dalam sejuk dan dinginnya udara malam itu, saat sejenak melepaskan kepenatan pada  aktivitas yang telah tertunaikan di siang hari.
Wahai sahabatku ada kisah yang ingin ceritakan dan ku bagi dalam satu tulisan agar bisa memberikan inspirasi bagi dirimu wahai sahabatku, sebuah kisah yang ku alami saat - saat perjalanan bersama beberapa orang sahabat di hari yang ramai dan gemerlapnya cahaya kendaraan yang hilir mudik silih berganti menerangi sepanjang jalan   kota.
            Serombongan pemuda dengan gagahnya menapaki terotoar jalan yang di sediakan bagi pejalan kaki, yang telah menjadi hak mereka untuk menikmati suasana malam kota yang padat dan ramai. Dengan gaya dan penampilan yang berbeda dengan karakter dan kepribadian yang berbeda mereka saling menyatukan pemikiran, saling menyatukan bahasa dalam warna perbedaan mereka, dalam keseruan dan keakraban di antara pemuda itu, aku melihat salah seorang sahabatku mengambil sebungkus rokok dari arah saku celananya lalu memetik sebatangnya dalam barisan beberapa buah rokok lainnya yang tersisa di dalam bungkus tersebut. Mungkin bagi kamu ini hal yang biasa saja terjadi tapi saya ingin merubahnya menjadi  satu hal yang tidak biasa , kenapa ?? karena ini pertama kalinya saya melihat sahabat saya ini merokok bahkan memiliki sebungkus rokok lagi, terbesit dalam hati untuk mengawali pembicaraan dengannya .
“ Bro [ bahasa persahabatan memanggil seseorang ], tumben merokok ??”
“ baru liat yah ?” jawabnya
“ iya nih, baru pertama kali saya melihat kamu ngerokok, saya kira wajah kamu yang akademis ini bukan seorang perokok loh”
“ hahaha” dia hanya tertawa
“lalu sejak kapan ni mulai ketagihan ngerokok ??” tanyaku lagi
“hemmmm [ lama dia berpikir ] kira – kira semenjak awal – awal perkuliahan”
“kok saya baru tahu.” Terheran dengan diri sendiri karena baru mengetahui temannya merokok
“hemmm J “ dia hanya tersenyum
“kenapa bisa jadi perokok ??” tanyaku kembali.
“hemmmm [ lama lagi dia berpikir, mengumpulkan satu alasan ]  mungkin terpengaruh dengan teman juga sih katanya kalau tidak ngerokok yah tidak jantan, dan juga karena waktu itu tugas – tugas perkuliahan banyak juga, di tambah kepala pusing karena  masalah peribadi yang begitu semerawut , saya  cari obatnya nggak sembuh – sembuh juga , pas ngerokok nyut – nyut di kepala jadi hilang semua tuh” alasannya
Diriku pun sempat terdiam, hingga terheran – heran dengan alasannya, mengapa dia bisa terpengaruh dengan kata – kata temannya “kalau tidak ngerokok yah tidak jantan” padahalkan seorang banci juga ngerokok dan mengapa juga harus menghilangkan masalahnya , mengobati rasa sakitnya dengan ngerokok, bukankah itu malah akan menimbulkan masalah baru dan penyakit – penyakit baru yang akan ia alami di kemudian hari.
“memang kamu nggak takut sama ancaman yang tertulis di balik bungkus rokok tersebut ?”
“hemmmm yah takut juga sih”
“ Lalu kok masih merokok ?“
“ entahlah rasanya saya sudah mulai kecanduan, sulit rasanya kalau mau berhenti ngerokok” jawabnya dengan enteng
“emangnya ada niat mau berhenti ngerokok ?”
“iya juga sih, terkadang niat itu ada untuk berhenti ngerokok”
Syukur alhamdulillah kalau dia masih juga ada niat mau berhenti, tinggal di kasih motivasi aja untuk berhenti ngerokok.
“lalu sehari berapa batang ngerokoknya ??” tanyaku dengan antusias
“ yah kadang – kadang enam batang  sehari “
“hemmm enam batang sehari, kalau satu batang harganya 500 rupiah, maka dikalikan 6 di kalikan 365 hari dalam setahun yah kira – kira satu juta lebih uang yang telah engkau bakar hanya untuk kepulan asap yang menggerogoti kesehatan tubuhmu, belum lagi tambah ongkos yang harus dikeluarkan kalau sakit gara – gara ngerokok.. kalau saja uang itu digunakan untuk keperluan kuliahmu kan lebih bermanfaat kan.”
Dia pun mengangguk – angguk seakan – akan paham dengan penjelasan  - penjelasan yang telah ku katakan padanya.
“ kira – kira punya nasehat nggak untuk berhenti kecanduan ngerokok ??” tanyanya kepadaku
“ yah tentu saja ada nasehatnya jika kau memintanya, mau dengarkan ??”
“iya” jawabnya dengan mantap.
“ yang pertama kali mesti dilakukan adalah menancapkan NIAT di Hati, sebab kemauan berhenti saja tidak cukup tanpa di barengi dengan NIAT Yang tulus, kapan dan dimanapun ada hasrat untuk ngerokok, maka harus ingat kembali niatnya yang sudah mantap berhenti untuk merokok, karena ngerokok juga salah satu  sikap untuk menceburkan diri dalam kebinasaan yang akan membunuhmu secara perlahan – lahan “
“hemmm lalu yang kedua” tanyanya lagi
“ selanjutnya kamu jangan mudah terpengaruh oleh temanmu yang ngerokok, misalnya jika ada yang nawarin kamu rokok, hendaklah terus terang kalau kamu sudah berhenti ngerokok serta musti tegas dalam pendirianmu kalau kamu sudah tidak akan lagi ngerokok meskipun hanya setengah atau sebatang saja dan tidak juga ngerokok  hanya setelah makan saja, pokoknya harus total tidak mau lagi ngerokok walau satu isapan sekalipun.” Jawabku dengan tegas.
“lah kalau mereka mengejek saya bagaimana dong ??” tanyanya lagi
“hem hem , anggap aja ejekan mereka sebagai angin lalu, jika ada temanmu yang mengejek  kamu, yah kamu herus tetap dalam pendirian kamu dan tidak goyah, dan itu juga godaan syetan  dalam bentuk manusianya, yang tidak akan berhenti menggodanya sampai yang digodanya bertekuk lutut, jadi ejekan, hinaan apa pun bentuknya yah anggap aja sebagai angin lalu dan tidak perlu di hiraukan., bukankah kamu sudah bertekad untuk berhenti ngerokok dan meyakinkan diri bahwa kamu mapu untuk berhenti ngerokok jadi ejakan teman apapun itu sudah nggak menjadi maslah yang penting bagi kamu dan ingat juga nih bahwa teman sejati itu adalah teman yang mengantar kepada kebaikan dan bukan kepada keburukan .”
Dan saat mendengar dan merenungkan beberapa nasihat dari saya dia pun berusaha sekuat mungkin untuk tidak merokok dan memanfaat bulan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk berlatih penuh untuk tidak merokok lagi.
Wahai  sahabatku itulah sepenggal cerita yang ingin ku bagi dalam tulisan kali ini agar bisa bermanfaat untuk dirimu juga, dan merenungkan agar tidak menyia – nyiakan betapa banyak rupiah yang telah tebuang sia – sia , hanya untuk mengepulkan asap rokok semata, dan mencegahmu agar 4000 bahan kimia dalam asap rokok itu tidak meracuni dan merugikan kesehatanmu, agar zat Nikhotin, Tar dan Karbondioksida tidak menjadi bagian dari zat yang berpengaruh bagi kesehetanmu, agar kanker paru tidak menjadi ancaman untuk membunuhmu, yang memperburuk pernapasanmu, yang mengkropposkan tulang – tulangmu, yang tidak membahayakan saudara – saudaramu , teman – temanmu, dan orang yang kau cintai dari hembusan asap rokok yang kau keluarkan. Wahai sahabatku apakah dirimu kan nekat dengan semua bahaya yang kan mengancam jiwamu dan mengabaikannya ?? apakah kau akan mengobarkan dirimu , teman, dan keluargamu hamya untuk kepulan asap yang tak membawa arti, maka mulailah dari sekarang untuk berusaha berhenti dari kesia – siaan yang hanya merugikandirimu wahai SAHABATKU.!



Sepenggal Cerita
Salman Al Hariyadi

Rabu, 21 Agustus 2013

"KRITIK JUGA TANDA CINTA"


Terkadang ada satu pertanyaan yang terbesit dalam benak ini, apa sih manfaat kritik bagi sebuah hubungan persahabatan , bagi sebuah hubungan persaudaraan dalam kehidupan kita ??. sejauh mana juga kritik itu di butuhkan.?? Jangan – jangan dirimu juga muak , jengkel kalau terlalu banyak dikritik hihi hihi {(^_^)}
Begitulah yang namanya KRITIK , karena yang pada dasarnya kritik itu bisa di katakan PENILAIAN NEGATIF sekali lagi PENILAIAN NEGATIF, ( kalau PENILAIAN POSITIF itu pujian kan ??? {^_^} ) , penilaian negatif tentang ucapan, perbuatan, pemikiran, perasaan, dan pilihan yang telah kita perbuat, tapi kalau berbicara tentang penilaian , penilaian ini sangat beragam, mulai dari kata – kata yag diucapkan dengan halus maupun kata – kata yang diucapkan dengan kasar tergantung masing – masing pribadi mereka yang menyampaikan kritik itu.
Akan tetapi pada dasarnya di balik suatu kritikan sesungguhnya ada suatu keinginginan yang terpendam, maksudnya ???, yang saya maksud itu ada sebuah tujuan dimana si pengkritik meyampaikan rasa cintanya kepada seseorang yang akan dikritik, sekali lagi tentunya dengan cara penyampain yang berbeda, tergantung dia yang akan di kritik apakah ia memiliki hati yang peka terhadap sentuhan cinta yang engkau sampaikan dengan balutan pesan kritikan itu. {^_^}
Dalam kehidupan social, baik di tempat kerja, di rumah, di sekolah maupun di kampus, kita selalu bergaul dengan teman, sahabat, ataupun keluarga, tetapi terkadang mereka memiliki sifat dan karakter serta pribadi yang buruk membuat diri kita mau tidak mau untuk segera melancarkan kritikan padanya, walaupun kritikan itu perlu, tapi terkadang juga kita sering menemukan sahabat kita ini tidak suka kalau selalu di kritik, hemmmmmm {o_O}  kalau sudah begini terkadang merepotkan juga ya ??
Tapi pada tulisan kali ini saya berbagi tips bijak mengenai kritik yah bisa di bilang ini hasil perenungan dalam realita kehidupan yang telah saya jalani ( bersikap sok bijak {^_*} ) tentang bagaimana mengkritik secara bijak dan tentunya dengan menggunakan bahasa yang enak di dengar dan lebih santun.
  •   Yang pertama kali mesti dilakukan sebelum mengkritik seseorang adalah di dahulukan dengan NIAT , niatkanlah apa yang hendak anda sampaikan itu karena Allah.SWT dan untuk mewujudkan rasa cinta dan persaudaraan karena itu katakanlah padanya, “Sahabatku apa yang akan aku katakana ini semata – mata karena Allah dan untuk persahabatan kita juga, maka…….”. so pastinya dia akan menyimak apa yang akan kau katakana sebagai nasehat yang baik baginya juga.
  •   Selanjutnya adalah langsung saja memberikan solusi daripada menyebutkan sederet kesalahannya. Misalnya ; katakan pada adikmu “kayaknya akan lebih rapi dan bersih , jika kita langsung memasukan baju kotor di tempatnya.” Dan jangan katakan, “kamu selalu saja tidak bisa menjaga kebersihan , memang nggak capek ngurus rumah ??”, jika kau mengatakan seperti itu dengan nada yang keras dan membentak hingga tetangga juga mendengar suara mu, hihihih di jamin jodoh mu jauh. {^_^}
  •  Tunjukan sikap mau berkompromi untuk kepentingan persahabatan berdua, tetapi tetap tegaskan sifat anda yang benar, contohnya dengan mengatakan , “aku ingin para anggota yang lainnya bertanggung jawab dalam masalah waktu, tapi kamu selalu merusaknya dengan kebiasaan burukmu itu. Aku ingin kamu juga sebagai ketua displin terhadap waktu.” Ini salah satu trik meyampaikan kritik tetapi juga mengajaknya untuk berubah dalam kebaikan bagi dirinya {^_^}.

Itu beberapa hal yang bisa saya bagikan dalam melakukan suatu kritikan terhadap seseorang tetapi perlu di ingat , kritikan itu bisa juga disebut nasihat dengan cara yang berbeda, dan juga sesuaikan karkater mereka yang akan kita kritiki. Dan yang leih penting lagi lakukanlah perubahan itu dari diri kita sendiri, darimana lagi kita kan mulai terlebih dahulu , kalau bukan dari diri kita sendiri.

Sepenggal Cerita
{(^_^)}
Salman Al Hariyadi

"KILAU FATAMORGANA GOSIP"


Meskipun kerongkongan kering dibakar dahaga, tubuh berpeluh di panggang terik matahari, dan jalan yang tampak hanyalah hamparan padang, tetapi diri ini tak boleh lengah dengan kilau fatamorgana gossip, itu semua hanyalah ilusi optic akibat perbedaan kepadatan udara dan kesalahan penangkapan mata manusia. sungguh ini bukanlah hakikat melainkan hanya sebuah refleksi, Namun , meskipun hanya sebuah refeleksi, keberadaannya cukup menggoda siapa saja yang memandangnya. lebih – lebih bagi mereka yang sedang kehausan di tengah perjalanan kehidupan yang sangat terik ini.

Walaupun keberadaannya cukup sekali menggoda, maka hiraukanlah karena sekali lagi ia hanya sebuah refleksi yang bisa menipu dan mengecoh , bagi dirimu dan diri ini yang sedang merindukan setetes air di perjalanan kehidupan yang melelahkan ini.

Bagi mereka yang memandang kilau fatamorgana gossip, yang sedang mengarungi lautan padang pasir kehidupan di bawah terik matahari, sepanjang jauh memandang ia hanya melihat padang pasir kehidupan yang mengkilau terkena sinar matahari. mereka kehausan, juga merindukan kesejukan. rasa haus dan rindu kesejukan ini semakin menghebat jika ternyata dia juga kehabisan bekal kasih sayang dan rasa cinta. pada saat itulah nun jauh di sana tampak kilauan fatamorgana gossip seperti pancaran dari sebuah mata air menyejukkan.

Bagi mereka yang tidak memahami hakikat itu ia akan tergoda dan mengejarnya karena dia menganggap di ujung sana ada sumber mata air yang jernih dan sejuk, yang nilainya lebih berharga dari pada nilai cinta dan kasih sayang. mereka bergegas menuju tempat itu dengan penuh angan – angan , sekalipun tempat itu jauh, mereka tetap menempuhnya dengan tidak memperhitungkannya bahwa yang mereka lakukan hanya kesia – siaan, ternyata sesampainya disana ia tidak mendapatkan apa – apa, bahkan melihat air pun tidak, sedangkan rasa hausnya semakin bertambah, sementara tenaganya semakin lunglai dan kelelahan. sungguh menyakitkan. mereka tertipu oleh apa yang disebut fatamorgana gossip.

Dalam kehidupan kita sebagai makhluk yang bersosial di lingkungan masyarakat, antara dirimu  dan diri ini wahai sahabatku, selalu saja saja tercipta ruang -  ruang kilau fatamorgana gossip itu, sekali lagi wahai sahabatku, itu hanya sebuah fatamorgana gossip. sebuah fatamorgana yang jelas tidak benar adanya, tapi sungguh bagi mereka yang tidak mengerti akan tertarik dengan fatamorgana gossip itu karena ketidak benarannya, maka untuk mereka yang menikmati dan tertarik dengan ketidak benaran itu, tentu ada ketidak baikkan di hati mereka yang menikmati fatamorgana gossip, dan untuk dirimu dan diri ini wahai sahabatku, yang memiliki hati yang penuh cinta dan kasih sayang, janganlah menikmati fitnah yang terselip di balik bayang – bayang fatamorgana gosip itu.

Dan untuk dirimu dan diri ini wahai sahabatku, sebagai seorang yang meiliki pribadi yang rentan akan fitnah di balik bayang – bayang fatamorgana gossip itu, maka mulailah mengeluarkan kata - kata yang baik, karena pribadimu ibarat sebuah gelas bening yang warnanya di tentukan cairan yang ada didalamnya, pastikan yang engkau ucapkan itu baik, dan pastikan engkau berdiri di tengah oase pergaulan yang baik.


Sepenggal Cerita
{(^_^)}
Salman Al Hariyadi

"Budak Hitam Itu bernama Bilal bin Rabah"

Kesabarannya melahirkan satu keberanian untuk menyatakan ketauhidtannya di muka para bangsawan kafir Quraisy, kesabarannya bak minyak kasturi yang terpelihara dalam genggaman hatinya, wanginya pun menyadarkan orang yang membaca kisahnya, kisah kepahlawanan yang mengharumkan namanya, memuliakan jiwanya, menyucikan ruhnya, kokoh berdiri, tegak menghadapi setiap siksaan yang tanpa ampun menyelimuti tubuhnya yang hitam kelam, tapi hati, tapi jiwa, dan lidahnya masih terus meyebut ke-Esa-an-Nya, sekali lagi dia bernama Bilal bin Rabah, seorang pria habsyi berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat, dan bercambang tipis begitulah para ahli riwayat melukiskan sosok pribadinya yang besar yang penuh dengan cinta dan cita.

Sekali lagi sahabatku dia bernama Bilal bin Rabah, sosok yang menjadi salah satu keajaiban iman dan kebenaran islam. Dalam lintasan waktu, dalam lintasan generasi, terdapat jutaan yang mengenal sosok Bilal, dan kaupun wahai sahabatku tentu mengenal riwayatnya, kisahnya, dan kepahlawanannya dan tahu kah kau wahai sahabatku bukan hanya dirimu dan diriku tapi seluruh kaum muslimin dimanapun ia tinggal di belahan bumi ini mengetahui pribadinya yang penuh keteduhan.

Sekali lagi sahabatku dia bernama bilal bin rabah, ia muadzin pertama yang mengumandangkan Adzan, panggilan cinta untuk bertemu dengan Sang Maha Cinta. “Bilal bin Rabah…….. ?” sekali lagi ia seorang habsyi dari golongan orang berkulit hitam. Takqdir telah membawa nasibnya menjadi budak dari bani jumah di kota Mekah, karena ibunya pun seorang hamba sahaya mereka. kehidupannya pun tak berbeda dengan budak – budak lainnya, akan tetapi kehitaman warna kulitnya, kerendahan kasta dan bangsa, serta kehinaan dirinya di antara manusia selama itu sebagai budak belian, sekali – kali tidaklah menutup pintu baginya untuk menempati kedudukan tinggi yang dirintis oleh kebenaran, keyakinan, kesucian, dan kesungguhannya setelah ia memasuki agama islam.

“….Ahad …! ….Ahad….!

Waktu pagi hampir berlalu, waktu dhuhur dekat menjelang, dan Bilal pun di bawa kepadang pasir, tetapi ia pun tetap sabar dan tabah, tenang tak tergoyah, lalu waktu pun merubah padang pasir menjadi neraka, dengan keadaan telanjang bulat ia di baringkan di atas kerikil - kerikil padang pasir yang panas membara, lalu beberapa orang laki – laki mengangkat batu besar dan menjatuhkannya di atas tubuh dan dadanya, batu yang menindih tubuhnya bak sebongkah batu bara yang kian memanas menindih tubuhnya yang kurus kerempeng. siksaan yang begitu kejam dan biadab ini mereka lakukan setiap hari, begitu dasyatnya sisksaan yang di perbuat oleh para algojo-algojo itu, hingga membuat mereka menaruh rasa kasihan kepada Bilal bin Rabah, mereka berjanji dan bersedia melepaskannya asal saja bilal  mau menyebut “Tuhanku Lata dan Uzza” nama tuhan nenek moyang kaum kafir Quraisy secara baik – baik walau dengan sepatah kata sekalipun, akan tetapi walau sepatah kata sekalipun yang dapat di ucapkan bukan dari lubuk hatinya, dan yang dapat menebus nyawa dan hidupnya tanpa kehilangan iman dan melepas keyakinannya, Bilal tak sedikit pun hendak untuk mengatakannya, ia menolak mengucapkan hal itu dan sebagai gantinya ia senandungkan yang abadi

  “….Ahad….!....Ahad….! Allah Yang Maha Tunggal…!.... Allah Yang Maha Tunggal…..!”

Tinggalah Bilal dalam deraan panas dan tindihan batu hingga ketika sang fajar beranjak ke peraduannya, menyingkap warna jingganya, dan ketika hari berakhir di waktu petang mereka tegakkan badannya dan ikatkan tali pada lehernya, lalu merreka meyuruh anak – anak untuk mengaraknnya mengelilingi sudut – sudut kota Mekah, sementara Bilal tiada juga berhenti kedua bibirnya melagukan senandung sucinya

“…Ahad….Ahad…”

Begitu gigihnya Bilal bin Rabah mempertahankan keyakinannya dalam menghadapi siksaan yang bertubi – tubi, akan tetapi tak sedikitpun menggoyahkan keyakinannya, ia tetap sabar menghadapi cobaan ini, malah melahirkan satu keberanian tuk selalu senandungkan kata “..Ahad…Ahad..” di hadapan para bangsawan kafir Quraisy bahkan di hadapan majikannya Umayah, hingga membuat gusar dan amarah murkanya dan Umayah pun meninjunya sambil berseru “ Kesialan apa yang menimpa kami disebabkanmu, hai budak celaka ?! Demi Lata dan Uzza akan ku jadikan kau sebagai contoh bagi bangsa budak dan majikan-majikan mereka !”  dengan keyakinan seorang mukmin dan kesabaran yang suci, Bilal hanya menyahut “ ….Ahad….!...Ahad….!”  dan saat siksaan terus menerus dilakukan kepada Bilal tiba – tiba datanglah Abu Bakar Shiddiq, serunya ; “Apakah kalian akan membunuh seorang laki – laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah ?!” kemudian katanya kepada Umayah bin Khalaf ; “Terimalah ini untuk tebusannya, labih tinggi dari harganya, dan bebaskanlah ia…..!” demikianlah Umayah saat itu ; hatinya lega dan merasa amat beruntung karena Abu Bakar hendak menebus budaknya. ia telah berputus asa akan dapat menundukkan Bilal, dengan di jualnya Bilal akan memperoleh keuntungan dari pada membunuhnya dan Bilal pun mengambil tempatnya dalam lingkungan orang – orang merdeka berjuang bersama dalam satu barisan menegakkan agama islam. hingga memuliakan namanya.

 Sekali lagi sahabatku dia bernama Bilal bin Rabah , sosoknya merupakan satu kehormatan bagi perikemanusiaan yang menjadikan sebagai satu pelajaran perbandingan bagi ummat manusia, bahwa hitamnya warna kulit dan perbudakan, sekali-kali tidak menjadi penghalang untuk mencapai kebesaran jiwa, sekali lagi sahabatku dia bernama Bilal bin Rabah memberikan intisari hikmah kehidupan kepada orang – orang yang semasa dengannya juga kepada generasi di segala masa; suatu pelajaran berharga yang mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan jiwa dan kebebasan nurani, tak dapat di beli dengan emas separuh bumi, atau dengan siksaan bagaimanapun dahsyatnya, karena ia punya cinta, punya cita, dan kesabaran {(^_^)}

Serial Sahabat Nabi




Sepenggal Cerita

Salman Al Hariyadi