Salman Al Hariyadi

"ikhlas dalam menggapai ridho Allah.swt"

Sabtu, 15 Desember 2012

Dan Demikianlah Cinta



Dan Demikianlah Cinta

Assalamualaikum Wr Wb, sahabat-sahabat Salman Al Hariyadi, semoga hari ini  anda dalam keadaan sehat sehingga mampu menjalankan aktivitas rutin yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain, Alhamdulillah, kali ini saya akan menulis tentang sosok seorang Sahabat Rasulullah.SAW yang bernama Salman Al Farisi r.a, beliau adalah seorang pemuda yang berasal dari Persia, pemuda yang tampan wajahnya, cemerlang otaknya, tekun beribadah, menjadikan sosoknya sangat dicintai Rasulnya dan sahabatnya baik dari golongan muhajirin dan anshor. sepenggal kisah menarik yang ingin saya ceritakan dan saling berbagi kepada sahabat Salman Al Hariyadi tentang kisah Salman Al Farisi r.a yang ingin melamar seorang  wanita Shaleha, yang memiliki rupa meneduhkan, mempunyai sikap sopan santun pada dirinya.
maka inilah sepenggal kisah tersebut. J J J

Pada saat itu Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan  menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah (meminang). Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda r.a’.

Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan dari sebuah jawaban yang diutarakan oleh si wanita shaliha yang diwakilkan oleh ibunya, yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri tersebut lebih tertarik kepada si pengantar (Abud Darda r.a) daripada si pelamarnya! (Salman Al Farisi r.a), Itu mengejutkan dan ironis. Tapi sangat indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati, berkecamuk di dalam batin,. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Yaaaccch J, itulah Salman Al Farisi r.a, sosok pemuda yang memiliki cinta yang begitu luas, yang membuat taman hatinya menjadi lapang, mampu menciptakan kenyamanan yang menyerap semua emosi negatif, yang masuk melalui serat jiwa, melalui himpitan peristiwa kehidupan Tapi ikatan cinta  dan persaudaraan mengatur irama para pencintanya dalam keserasian yang indah. Itulah sebabnya mereka kuat. Juga Nyaman dan abadi. inilah sepenggal kisah Cinta Salman Al Farisi r.a yang ditakdirkan menjadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar. Tak terlihat, hanya terasa. Tapi dahsyat, Seperti angin membadai.. kau tak melihatnya, tapi merasakannya. Begitulah cinta, ia ditakdirkan menjadi kata tanpa benda. Seperti banjir bandang, kau tak kuasa mencegahnya dan hanya bisa ternganga saat ia menjamah seluruh permukaan bumi. Demikianlah cinta, lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. yang tersentuh sebagai sebuah situasi manusiawi. merajut semua emosi manusia. begitu agung tapi juga terlalu rumit. begitulah Cinta. sebagai sebuah makna kebenaran dalam penciptaan. yang tak akan tumbuh dalam hati yang dipenuhi kesombongan, keangkuhan, angkara murka dan dendam.
Dan Demikianlah Cinta.


Dan Demikianlah Cinta 
Salman Al Hariyadi