Dan Demikianlah Cinta
Assalamualaikum Wr Wb, sahabat-sahabat Salman Al
Hariyadi, semoga hari ini anda dalam
keadaan sehat sehingga mampu menjalankan aktivitas rutin yang bermanfaat bagi
diri kita dan orang lain, Alhamdulillah, kali ini saya akan menulis tentang
sosok seorang Sahabat Rasulullah.SAW
yang bernama Salman Al Farisi r.a, beliau
adalah seorang pemuda yang berasal dari Persia, pemuda yang tampan wajahnya,
cemerlang otaknya, tekun beribadah, menjadikan sosoknya sangat dicintai
Rasulnya dan sahabatnya baik dari golongan muhajirin dan anshor. sepenggal
kisah menarik yang ingin saya ceritakan dan saling berbagi kepada sahabat
Salman Al Hariyadi tentang kisah Salman Al
Farisi r.a yang ingin melamar seorang wanita Shaleha, yang memiliki rupa meneduhkan,
mempunyai sikap sopan santun pada dirinya.
maka inilah sepenggal kisah tersebut. J
J J
Pada saat itu Salman Al Farisi memang sudah waktunya
menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi
shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai
kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat.
Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga
ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah
tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki
adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir,
melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi
seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah
berbicara untuknya dalam khithbah (meminang). Maka disampaikannyalah
gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda
r.a’.
”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup,
beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota
Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman
seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di
sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau
menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini
melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang
paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat
Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan
seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya
saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang
puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata
sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang,
maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan
Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka
puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas
sudah. Keterusterangan dari sebuah jawaban yang diutarakan oleh si wanita
shaliha yang diwakilkan oleh ibunya, yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah.
Sang puteri tersebut lebih tertarik kepada si pengantar (Abud Darda r.a)
daripada si pelamarnya! (Salman Al Farisi r.a), Itu mengejutkan dan ironis.
Tapi sangat indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan,
di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati, berkecamuk
di dalam batin,. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan
gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang
dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang
kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi
pernikahan kalian!”
Yaaaccch J, itulah Salman
Al Farisi r.a, sosok pemuda yang memiliki cinta yang begitu luas,
yang membuat taman hatinya menjadi lapang, mampu menciptakan kenyamanan yang
menyerap semua emosi negatif, yang masuk melalui serat jiwa, melalui himpitan
peristiwa kehidupan Tapi ikatan cinta dan persaudaraan mengatur irama para
pencintanya dalam keserasian yang indah. Itulah sebabnya mereka kuat. Juga
Nyaman dan abadi. inilah sepenggal kisah Cinta Salman Al Farisi r.a yang
ditakdirkan menjadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar. Tak
terlihat, hanya terasa. Tapi dahsyat, Seperti angin membadai.. kau tak
melihatnya, tapi merasakannya. Begitulah cinta, ia ditakdirkan menjadi kata
tanpa benda. Seperti banjir bandang, kau tak kuasa mencegahnya dan hanya bisa
ternganga saat ia menjamah seluruh permukaan bumi. Demikianlah cinta, lukisan
abadi dalam kanvas kesadaran manusia. yang tersentuh sebagai sebuah situasi
manusiawi. merajut semua emosi manusia. begitu agung tapi juga terlalu rumit.
begitulah Cinta. sebagai sebuah makna kebenaran dalam penciptaan. yang tak akan
tumbuh dalam hati yang dipenuhi kesombongan, keangkuhan, angkara murka dan
dendam.
Dan Demikianlah Cinta.
Dan Demikianlah Cinta
Salman Al Hariyadi
