Saat hati yang berkilau keemasan, pudar akan karat kesombongan
yang menggrogoti setiap sendi-sendi pribadi yang berpotensi keemasan. manusia
yang tercipta dengan segala kesempurnaannya, akan tampak cacat saat penyakit kesombongan
bersemayam dalam hati ini, ketika kecerdasan dan kecantikan serta ketampanan
dan kekayaan merupakan suatu kenikmatan yang menjadikan pribadi manusia
berkilau layaknya emas si logam mulia. akan tetapi ketika kenikmatan itu
ternoda oleh noda hitam, oleh noda-noda kesombongan, oleh prilaku ujub yang
bangga akan kesombongan diri, sifat yang merendahkan kepribadian orang lain,
hanya akan menjatuhkan derajat kemanusiaan di mata Sang Maha Pencipta, Karena
hati yang ternoda akan memudarkan cermin kepribadian manusia, akan mengkaratkan
insan berkepribadian emas.
saya selalu memandang cerahnya langit, menikmati kehangatan
mentari yang selalu bersinar dengan penuh kerendahan dan ketawadhuaan di
hadapan sang pencipta-Nya. betapa
besarnya alam raya ini, betapa luasnya jagat raya ini hanya Nampak kecil
dimata Allah Yang Maha Suci, lalu mengapa kita harus sombong ?? di tengah
kekerdilan kita, di tengah ketidakberdayaan diri kita di hadapan Sang Maha
Pencipta, lalu mengapa kita harus merendahkan orang lain ?? dengan ilmu yang
hanya sebagian kecil yang di titipkan Allah SWT, Bukankah kesombongan itu hanya
milik Allah SWT, Bukankah kesombongan itu selendang Allah.SWT yang menyelimuti
di setiap sudut-sudut angkasa raya yang tak terjamah oleh mata manusia.
ku teringat dengan sentilan atau perkataan seorang Dosen, yang
menyentil kesombongan yang merayapi hati manusia dan merapuhkan kepribadian
emasnya, dengan nasehatnya yang penuh kebijaksanaan akan pengalaman hidup yang
telah ia lalui, ia berujar “janganlah sombong dengan ilmu yang engkau
miliki sa’at ini, karena dengan ilmu yang engkau miliki sa’at ini dapat
dipresentasikan dengan 0,00000………1%, bahkan belum mencapai 1% pun, maka jadilah
manusia yang memilki kepribadian rendah hati (low profile) dalam hidup ini, karena
kesombongan itu adalah selendang Tuhan Yang Maha Memiliki Ilmu”. ada benarnya juga nasihat yang singkat
itu, mungkin saja di umur kita yang sa’at ini, yang telah melewati putaran
waktu yang mungkin tak kan terulang kembali belum tentu memiliki ilmu sebanyak
1% pun dan mungkin saja di umur kita yang sa’at ini, yang telah melewati
fase-fase zaman yang tampak jelas tergores dalam wajah-wajah pribadi kita,
hanya memiliki setetes ilmu dari setetes samudra ilmu yang maha luas yang di
miliki Allah SWT.
maka Sahabatku ini
sekedar nasehat yang akan menasehati diriku dan dirimu dalam sebuah renungan
yang dalam akan kepribadian emas seorang manusia dan keperkasaan Sang Maha
Pencipta,serta kebesaran Sang Maha Cinta, dalam kelambu persaudaraan akan
kewajiban kita yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, semoga
tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, mohon ma’af jika ada salah kata dan
kesombongan. Salam Persaudaraan
_Salman Al Hariyadi_

0 komentar:
Posting Komentar