Salman Al Hariyadi

"ikhlas dalam menggapai ridho Allah.swt"

Rabu, 09 Mei 2012

Bercerita di Negeri 5 Menara


“NEGERI LIMA MENARA”
Selayang pandang Negeri Lima Menara
                Berawal dari sebuah kisah di tepi danau maninjau, bukit tinggi, desa kapau. Ada seorang remaja yang berprestasi di sekolahnya (madrasah tsanawiyah), seorang remaja yang memfaforitkan ketokohan B.J. Habibie,  “Alif” begitu sapaan akrabnya. Kemauan, keberanian impian, serta cita-cita terbungkus dalam satu jiwa dan raga pada dirinya.
                Tiga tahun dirinya di madrasah tsnawiyah baginya sudah cukupbekal ilmu agama , kini saatnya ia mendalami ilmu non agama, SMA Negeri menjadi tujuan selepas madrasah tsanawiyah , sebuah dunia impian yang lama telah ia bangun dalam benaknya, alif ingin sekali melanjutkan belajarnya ke SMA Negeri lalu kulia di UI, ITB dan terus ke jerman seperti pak Habibie; ia ingin menjadi orang-orang yang mengerti teori-teori ilmu modern bukan hanya ilmu fiqh dan ilmu hadits, ia ingin suaranya didengar civitas academica atau dewan gubernur, bukan hanya berceramah di mimbar surau di maninjau.
                Tapi “Amak” (ibunya) yang sering kali berpendapat lain dengan dirinya. Ibunya ingin memberikan alif  yang terbaik untuk kepentingan agama, menjadi pemimpin umat yang besar , karena dakwah merupakan tugas yang mulia, dengan pelan-pelan penuh cinta ibunya menasehati alif “amak ingin anak laki-lakiku menjadi seorang pemimpin agama  yang hebat dengan pengetahuan yang luas, seperti buya hamka yang sekampung kita itu, melakukan amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dan meniggalkan kemungkaran karena menjadi pemimpin agama lebih mulia daripada menjadi seorang insinyur”  
                Perbedaan keinginan alif dan ibunya membuat alif kesal, cita-citanya di tentang ibunya ini berbenturan dengan ras a dennga tidak tega melawan kehendak ibunya, tiga hari ia mogok bicara dan mengurung diri sebagai bentuk protes terhadap ibunya, berharap agar ibunya berubah pikiran melihat kondisi alif yang terus memeram diri; tiga hari berlalupun tidak ada tanda-tanda hati ibunya akan luluh , yang ada hanya himbauan untuk tidak mengunci diri.
                Didalam kamarnya yang terang temaram alif menerima sebuah surat dari pamannya (etek gondo) yang sedang belajar dimesir, pamannya mendoakan alif agar lulus dengan nilai yang baik dalam menghadapi ujian akhir, didalam isi suratnya itupun pamannya member usul kepadanya juga tentang kelanjutan belajarnya setelah ia lululs dar madrasah tsanawiyah. “….pak etek punya banyak teman di mesir yang lulusan ppondok madani di jawa timur, mereka pintar-pintar, bahasa arabnya dan bahasa inggrisnya fasih, dimadani itu mereka tinggal di asrama dan belajar displin untuk bias bahasa asing setiap hari , kalau tertarik mungkin bias jadi pertimbanga.”
                Alif termenugn sejenak membaca surat dari pamannya, terbesit didalam hatinya bahwa apa yang di usulkan pamannya itu sama saja dengan masuk sekolah agama juga, bedanya merantau jauh ke jawa dan mempelajari bahasa dunia cukup menarii bagi dirinya. Alif terus berpikir dan berpikir untuk ,mencari suatu jalan keluar dari ketidak jelasan masalah yang ia hadapi, walau begitu pada akhirnya ia putuskan bahwa dirinya menruskan studinya di sebuah sekolah agama pondok pesantren madani di pulau jawa.
Alif akhirnya mengikuti keinginan ibu dan ayahnya untuk  berangkat ke ponorogo untuk belajar di pondok pesantren madani dengan keterpaksaan.  Rasa berat dan terpaksa Alif perlahan luluh saat di pesantren bertemu dengan kawan-kawan baru yang kemudian menjadi sahabatnya yakni  Baso yang berasal dari Sulawesi Selatan, Said dari Surabaya, Atang  dari Bandung, Raja dari Medan, dan Dulmajid  dari Madura. Hingga mereka menjadi sebuah geng bandel di Gontor, geng yang terkenal dengan sebutan sohibul menara.
Beberapa hal yang mungkin bisa kita petik hikmanya dari novel negeri lima menara
  • ·         Kebhinekaan sangat dominan di novel ini. Para shohibul manara yang berasal dari berbagai daerah di nusantara, mengajarkan bahwa setiap daerah punya budaya dan karakter yang berbeda. Walaupun berbeda latar belakang dan daerah, mereka bisa bersama-sama untuk mencapai tujuan. Pondok pesantren bisa menjadi miniatur kebersamaan dalam keberagaman di Indonesia.
  • ·         memperbaiki niat karena Allah.swt, Belajarlah bahasa asing karena dia adalah anak kunci jendela dunia, belajar untuk displin, belajar memiliki keyakinan, belajar untuk mandiri karena kemandirian mengajarkan kita untuk merdeka dan maju.
  • ·         Persahabatan itu ternyata begitu indah. Persahabatan di antara Shohibul Manara mencerminkan betapa setelah keluarga, teman atau sahabat adalah hal yang penting untuk kita bangun. novel ini mengajarkan Kecakapan antar Personal yang baik bagi diri kita
  • ·         Keberanian, kecerdikan dan kemauan keras menjadi kunci sukses. hal itu tampak dalam berbagai alur cerita, misal saat Baso mengikuti lomba pidato, saat Shohibul Manara menghadap ustad torik terkait masalah meminta izin saat mereka ingin membuat acara nonton bareng kejuaraan bulu tangkis bersama. Selain itu, cerita Ustad Salman dan tim wartawannya saat membuat majalah pondok pesantern dalam waktu beberapa menit untuk diserahkan ke pak presiden, ternyata cukup mudah dipahami esensi pesannya oleh kita, bahwa kita juga bisa mencapai tujuan bila mau bekerja keras pantang menyerah.
  • ·         Pondok pesantren juga merupakan tempat yang ikhlas bagi para ustad untuk mengabdi bahkan mewakafkan dirinya untuk pendidikan dan syiar agama. Semoga ini juga menginspirasi kita para aktivis dakwah untuk selalu ikhlas dengan tugas-tugas dakwah, dsb.
  • ·         Sosok Kyai Rais yang ternyata pintar dan gemar bermain bola, menunjukkan bahwa Kyai juga manusia seperti orang kebanyakan, dan bukan dewa yang tidak terjangkau oleh orang kebanyakan. Kyai Rais di novel ini sangat humanis dalam memimpin pondok pesantrennya.
  • ·         Kalimat “Man Jadda Wajada” sebuah pepatah Arab yang berarti "siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses adalah kalimat ajaib yang sering muncul dalam novel Negeri 5 Menara, sebuah kalimat yang di pegang teguh oleh Alif untuk menyelesaikan studinya di pondok madani Gontor. Sebuah studi yang pada awalnya tidak di harapkan sama sekali, dan terpaksa dia masuki untuk menyenangkan hati kedua Orang tuanya.
Hikmah terbesar dalam novel tersebut ini kita bisa belajar, bahwa bisa jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik untuk kita. memang bukan hal yang mudah menjalani kehidupan yang tidak kita harapkan, namun dengan kesungguhan, betapa berat jalan tersebut akan menjadi penuh makna. Dan perjuangan yang penuh kesungguhan tersebut mengantarkan kita menyelesaikan sebuah perjalanan / ujian yang sama sekali tidak ia harapkan, menjadi sebuah kemenangan yang berharga.

0 komentar:

Posting Komentar